JEDA
Hari-hari berganti dan sama tak berarti dengan hari kemarin.
Pagi datang lagi mengejekku dengan perantara sinar mentari; menyusup melalui teralis jendela kamarku, menggelitik sadarku dan memaksaku bangun untuk menjadi orang normal lagi.
Hari-hari berganti dan sama tak berarti dengan hari kemarin.
Pagi datang lagi mengejekku dengan perantara sinar mentari; menyusup melalui teralis jendela kamarku, menggelitik sadarku dan memaksaku bangun untuk menjadi orang normal lagi.
Aku mendengar suara tawa dari
alarmku; ia berteriak.
Puas atas diriku yang tak bisa mengelak.
Waktu pecah berserak.
Tidak bergerak, aku bertahan dan beranjak: Aku jadi jeda.
Selamanya aku jadi jeda.
Sebagai spasi antara kata demi kata sebelum tanda titik.
Sebagai bel pulang, antara rasa jenuh dan kebebasan.
Aku jeda di antara malam dan pagi yang sering dilewatkan.
Aku jeda, antara dipertemukan dan dipisahkan.
Puas atas diriku yang tak bisa mengelak.
Waktu pecah berserak.
Tidak bergerak, aku bertahan dan beranjak: Aku jadi jeda.
Selamanya aku jadi jeda.
Sebagai spasi antara kata demi kata sebelum tanda titik.
Sebagai bel pulang, antara rasa jenuh dan kebebasan.
Aku jeda di antara malam dan pagi yang sering dilewatkan.
Aku jeda, antara dipertemukan dan dipisahkan.
-tapi tanpa jeda, semuanya tak berbatas dan hanya berupa ketidakjelasan,
anadias.
-Teruntuk Syifanadiaa, thanks ya karyanya. Jeda suka-